Ranting Persahabatan. . .  

Diposting oleh nisrina ingin berkarya



Pagi itu, sekolah masih sepi. Ku terdiam, melamun sesaat. Duduk di teras samping kelas dengan memandangi hamparan sawah yang terbentang di samping ruang kelas tempat ku belajar.

Suara hiru pikuk masih terdengar sangat tajam ditelingaku, suara itu terdengar dikejauhan tempat. Kulihat tempat sekelilingku berada. Lalu kulirik jam ditanganku. Tepat masih pukul 06.30. Suatu kemungkinan kecil untuk siswa – siswi SMA Permata Bangsa untuk sampai di sekolah pada pukul 06.30. Yah. . .itu cukup mustahil bagiku, hanya terdapat beberapa anak saja yang sudah nampak waktu itu. Itu pun dikarenakan rumah mereka hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah saja dari sekolah.

Tiba – tiba ada suara dari kejauhan yang memanggilku.
”Bima. . . . . ” suara itu kelihatan sangat kukenal.
Aku menengok. Ternyata Nino, dialah sahabatku. Seorang sahabat yang sangat dekat denganku.
”Bim, sendirian saja kamu ? ”tanya Nino sambil menepuk pundakku.
” Emmm. . . iya no, ini aku la. . . ” jawabku.
”Agh. . . sini Bim, ada yang ingin kutunjukan sama kamu .” Nino memotong pembicaraanku.
Dia menarik tanganku, seolah – olah ada suatu hal penting yang ingin ia tunjukan padaku.

Beberapa saat kemudian, sampailah kita disuatu tempat. Kebun belakang sekolah. Itulah tempat dimana Nino mengajaku. Langkah kita terhenti tepat dibawah pohan tua kering. Nino memandangi pohon itu. Lalu ia menangis. Ku terdiam sesaat. Aku bingung. Aku merasa ada keanehan pada diri Nino saat itu. Tak seperti biasanya. Beribu – ribu tanya muncul di pikiranku sekarang.
”Mana mungkin, seorang Nino meneteskan air mata ketika melihat sebuah pohon tua yang sudah layu, bahkan kering kerontang, hanya tersisa beberapa daun saja yang menempel dipucuk rantingnya. Seorang Nino yang biasanya ceria, penuh canda tawa sekarang menangis karena hanya melihat sebuah pohon.” batinku bertanya – tanya.
”Bim, kamu lihat pohon itu ? ”tanyanya padaku.
”Kamu kenapa Nino, apa ada yang salah dengan pohon itu ? ” pertanyaan itu seakan meluncur begitu saja dari bibirku.
”Pohon itu aku Bim, ia seperti aku. ” jawab Nino dengan wajahnya yang kusam.
”Sudahlah No, kamukan anak cowok kok menangis. Kamu lagi sakit ya ?” tanyaku.
”Sakit ? Sakit apa Bim. . . Aku sehat – sehat saja kok. ” jawab Nino sambil mengusap air matanya.
” Sakit jiwa maksudku. . . . Hahahaha. . . . ” ucapku yang bermaksud untuk menghiburnya.
Nino ikut tertawa, dan kami pun tertawa bersama.

Sampai beberapa saat kemudian, tak ku lihat lagi kesedihan dari wajah Nino. Tetapi masih banyak pertanyaan mengenai Nino yang tersimpan dibenakku. Soal keanehan Nino. ”Apa hubunganya Nino dengan pohon tua itu ? ”
Sampai saat ini aku tak berani untuk menanyakan pertanyaan itu kesiapa pun. Termasuk Nino.

Setelah itu kami berjalan bersama menuju lapangan basket yang terletak tak jauh dari kebun belakang sekolah. Tibanya disana, Nino mengambil salah satu bola basket yang tergeletak disalah satu sudut ruang. Lalu ia melemparkan bola tersebut yang kebetulan langsung masuk ke ring.
”Prok . . . Prok . . . Prok . . . ”aku langsung memberinya tepuk tangan yang bermaksud menyenangkan hatinya.
”Hebat kamu No, tidak heran kalau Pak Mardi memilihmu sebagai ketua EC Basket. ” pujiku terhadapnya.
”Emmm. . . tidak kok Bim, biasa saja. Kamu itu yang lebih hebat dariku. . . ” pujinya untukku.
”Hebat apanya No ? Hebat menyontek ? Iya. . . Hahahaha “ jawabku dengan bercanda dengannya.
Nino ikut tertawa dengan leluconku yang sebenarnya tidak lucu. Kami pun tertawa bersama.

Beberapa menit kemudian, tiba – tiba wajah Nino terlihat sangat pucat. Ia jatuh pinsan. Aku terkejut. Aku mulai dibuat kwatir olehnya. Tak menunggu lama, kubawa Nino ke UKS sekolah. Aku tak tau apa yang menyebabkan Nino sampai tak sadarkan diri. Keadaannya sangatlah kritis. Sampai – sampai Nino harus memdapatkan rawatan dirumah sakit. Ia dirawat selama 3 hari. Tiga hari kulalui tanpa dia disekolah, tanpanya aku sangat kesepian. Karna dialah sahabatku. Teman berbagi canda tawa. Teman untuk berbagi suka duka yang menghampiri.

Ku kembali terduduk diteras depan kelas seperti dari awal bagian cerita. Suasana sepi masih menghampiri saat itu. Kembali kulirik jam ditanganku. Masih pukul 06.30. Pantas saja sekolah masih sangat sepi. Kemudian kumerenung sesaat. Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku terkejut.
”Nino. . . ” ucapku dengan spontan.
”Nino ? ? Sadar Bim, Nino sudak tidak ada. Ini aku Romi. ” ucap Romi menyadarkanku.
”Oh. . . kamu Rom. . . ” jawabku sambil mengusap air mata yang hampir menetes dipipiku. Aku baru sadar kalau ternyata Nino sudah tidak ada. Ia meninggal 3 bulan yang lalu. Ia divonis Dokter mengidap penyakit kanker otak stadium 4. Aku kini tau apa yang dimaksud Nino beberapa bulan yang lalu ketika ia masih hidup. Apa maksud dari pohon tua kering di kebun belakang sekolah yang ia tunjukan kepadaku. Yah. . . aku baru tau sekarang. Bahwa hidup Nino sangat mirip dengan pohon itu.

Selamat jalan Nino. Kaulah sahabatku selamanya. Walau ajal memisahkan kita.


This entry was posted on 20.17 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar